Tag Archives: kakao flores

Produk Cokelat Indonesia Diminati Warga Austria

Produk Cokelat Indonesia Diminati Warga Austria

Newswire Jum’at, 12/02/2016 09:30 WIB

2016-02-12-Produk Cokelat Indonesia Diminati Warga Austria

Bisnis.com, LONDON – Produk cokelat Indonesia diminati pengusaha di Austria dalam acara Indonesian Chocolate Tasting yang digelar KBRI/PTRI Wina di Hotel Grand Sacher, Wina.

“Indonesian Chocolate Tasting bertujuan mempromosikan keunggulan kualitas cokelat Tanah Air serta produk olahannya kepada kalangan industri dalam upaya mendorong peningkatan perdagangan Indonesia – Austria,” demikian Minister Counsellor KBRI/PTRI Wina, Dody Kusumonegoro, Jumat (12/2/2016).

Dalam acara yang mendapat sambutan lebih dari 45 undangan dari berbagai kalangan, khususnya yang bergerak di bidang industri makanan hadir Dubes RI untuk Republik Austria, Rachmat Budiman, dua pengusaha dari Indonesia Serlly Tedjoprawiro dan Tissa Aunilla memberikan presentasi singkat mengenai industri cokelat dan proses pengolahan biji kakao di Indonesia.

Serlly Tedjoprawiro, pemilik Teja Sekawan Cocoa Industries, perusahaan pengekspor produk olahan biji kakao berbasis di Surabaya. Sementara itu Tissa Aunilla merupakan pemilik Pipiltin Cocoa, produsen cokelat sekaligus pemilik toko Pipiltin Cocoa yang berbasis di Jakarta.

Dalam acara tersebut undangan mendapat kesempatan mencoba suguhan beberapa jenis produk Pipiltin Cocoa berupa chocolate nibs dan truffle yang diolah dari biji cokelat yang berasal dari Aceh, Flores, Jawa Timur dan Bali.

Undangan yang berasal dari berbagai kalangan seperti food distributor, produser cokelat, dan pengamat kuliner memuji kualitas dan rasa cokelat yang disajikan, khususnya produk olahan dari biji kakao berasal dari Bali dan Flores yang memiliki cita rasa unik.

Salah seorang peserta Martin Juric dari Pommax Trading, perusahaan dan food distributor cokelat, menyampaikan minatnya akan produk cokelat Pipiltin Cocoa yang diolah dengan kelapa dan memuji kemasan cokelat yang dinilainya sangat bagus.

Dia juga menyarankan pengusaha cokelat Indonesia agar dapat melakukan disain khusus yang lebih personal mengakomodir kebutuhan pesanan dari perusahaan atau individu dalam penyajian cokelat untuk momen tertentu.

Berdasarkan statistik, Indonesia merupakan negara produsen cokelat terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Adapun Austria merupakan negara konsumen cokelat terbesar ketiga di dunia dengan jumlah 7,8 kg per kapita per tahun.

Konsumsi cokelat masyarakat Austria diperkirakan terus meningkat dan menuntut produk berkualitas tinggi, premium dan rasa yang unik. Hal ini merupakan suatu peluang besar bagi petani kakao dan pelaku industri cokelat di Indonesia untuk mempromosikan dan memasarkan produknya di Austria.

Sumber : http://industri.bisnis.com/read/20160212/12/518437/produk-cokelat-indonesia-diminati-warga-austria

 

Sikka Siap Mengirimkan Hasil Perkebunannya Ke Manca Negara

Sikka Siap Mengirimkan Hasil Perkebunannya Ke Manca Negara

31JUL

IMG_1791
Pagi hari Kamis tanggal 30 Juli 2015 di jalan Soverdi dusun Nita Pleat desa Nita Kecamatan Nita Nampak ada sedikit keramaian. Mulai masuk jalan sudah terpampang spanduk selamat datang diacara Launching Unit Pemasaran Bersama Wirausaha Koperasi Sube Huter.
Apa sebenarnya kegatan ini?
IMG_1686
Bedasarkan informasi yang didapat, berawal dari banyaknya kredit macet dari anggota Kopdit Sube Huter khususnya petani kakao, dimana sebagian besar produksi kakaonya mengalami penurunan yang sangat dratis dikarenakan terserang penyakit seperti PBK dan busuk buah, ini disebabkan salah satunya para petani belum mengetahui bagaimana praktek berkebun yang baik.
Kemudian timbul ide dan trobosan baru Kopdit Sube Huter setelah bertemu dengan Program SPSCF – Support of Poor Small Cocoa Farmer yang dilakukan oleh Yayasan Sahabat Cipta (yang dulunya Swisscontact) dengan Wahana Visi Indonesia untuk mengadakan Sekolah lapang kakao bagi anggotanya. Sebagai kelompok percobaan dilakukan di desa Puho kecamatan Lela. Sekolah Lapang diikuti sekitar 25 orang anggota untuk 10 kali pertemuan. Ide ini juga dibarengi dengan ide lain yaitu memberi kredit untuk keperluan budidaya kakao guna pembelian gunting galah, gunting steck dan juga spryer. Dari hasil monitoring Sube Huter, dikabarkan sudah mulai ada perubahan tanaman kakaonya dan mulai ada peningkatan hasil produksi setelah anggota mengikuti sekolah lapang dan menerapkan ilmu yang didapat. Selain itu kredit alat alat untuk budidaya kakao juga sudah lunas.
Sebelum jauh sebagai informasi perlu dijelaskan apa itu program SPSCF. Sejak 2012 Yayasan Sahabat Cipta (yang sebelumnya Swisscontact Indonesia) bersama Wahana Visi Indonesia dan Pemerintah Daerah melakukan program Pengembangan kakao di Kabuaten Sikka dengan nama Support of Poor Small Cocoa Farmer. Program ini bertujuan untuk memicu pertumbuhan ekonomi dibidang kakao dan meningkatkan peran serta pelaku rantai nilai komoditi kakao. Intervensi program yang di implementasikan yaitu meningkatkan produktifitas melalui intensifikasi dengan memperbaiki budidaya tanaman dan ekstensifikasi, penguatan bisnis kakao dan peningkatan nilai tambah melalui implementasi pasca panen: pengeringan, fermentasi, pemasaran bersama dan akses ke pasar. Secara garis besar ada tiga objectif dalam kegiatan ini yaitu :

Outcome 1

Outcome2

Outcome3

Nyambung dengan pertanyaan awal apa itu launching Unit Pemasaran Bersama Wirausaha Koperasi Sube Huter.
Pemasaran yang efektif sangat dibutuhkan dalam memasarkan biji kakao dan komoditi lainnya. Salah satu faktor yang menentukan pemasaran yang efektif dan efisien yaitu sedikitnya rantai nilai pemasaran. Dengan sedikitnya rantai nilai pemasaran, maka dampaknya adalah tingkat harga yang baik bagi petani. Semakin tinggi harga jual biji kakao, yang berarti juga meningkatnya selisih harga yang diterima petani, akan membuat petani termotivasi untuk meningkatkan produksinya. Hal ini berarti bahwa peningkatan produktivitas saja belum cukup, namun harus diikuti penyempurnaan/ perbaikan dalam saluran-saluran pemasaran.
IMG_1737
Salah satu perbaikan dalam rantai pemasaran adalah mengefisiensikan rantai distribusi atau perdagangan kakao dari petani sampai ke pembeli besar atau pabrikan pengolahan coklat. Selain itu juga biasanya para pembeli skala besar cenderung lebih suka langsung berhadapan dengan satu kelompok yang lebih besar, mereka enggan untuk berhubungan dengan petani individu maupun kelompok kelompok kecil.
IMG_1680
Untuk menanggapi hal tersebut Sube Huter didukung Yayasan Sahabat Cipta dan Wahana Visi Indonesia dalam program Support of Poor Small Cacao Farmer- SPSCF mendirikan satu Unit Pemasaran Bersama di tingkat Kabupaten. Unit ini dirancang dan diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi pembeli besar dari luar kabupaten Sikka seperti BT Coco, PT Mars dan lain lainnya. Juga bisa dijadikan model bagi lembaga atau pihak swasta lainnya baik yang ada di kabupaten Sikka maupun di kabupaten lainnya.
IMG_1798
Dalam pembangunan unit Pemasaran Bersama ini tentunya memerlukan proses dan waktu yang cukup panjang, dimana Yayasan Sahabat Cipta dan Wahana Visi Indonesia sebagai fasilitator dengan melibatkan dinas terkait seperti dari Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan Dinas terkait lainya mendapat tantangan yang cukup berat dalam menentukan siapa dan di mana Unit pemasaran bersama ini akan didirikan sesuai dengan syarat dan ketentuan yang sudah ditetapkan. Dari beberapa lembaga yang ada, terpilihlah Sube Huter sebagai lembaga yang telah memenuhi persyaratan dan komitmen untuk melakukan kegiatan tersebut.
Adapun kelebihan dari Unit Pemasaran Bersama wirausaha koperasi Sube Huter adalah adanya fasilitas penjemuran dengan menggunakan bahan atap Solar tuff khusus yang sesuai dengan standart dan diinginkan pembeli atau pabrik pabrik besar, untuk dapat menghasilkan dan memenuhi kualitas biji kakao yang berkualitas. Dimana pada saat pembangunan ini dibantu tehnisi khusus untuk solar dryer dari BT Coco. Disamping itu juga memberlakukan sistim standard operasional prossedur yang baik. Tentunya tidak hanya itu saja, langkah selanjutnya kakan dilakukan proses sertifikasi UTZ untuk komoditi kakao dan akan disusul komoditi lainnya seperti mente, kemiri dan lain lain. Untuk kakao sendiri sebagai langkah awal sertifikasi akan dilakukan di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Nita, Koting dan Lela, mencakup 13 desa. Adapun jumlahpetani yang menjadi peserta ada 1271 orang petani dengan potensi produksi 160 ton per tahun.
IMG_1674
Dengan adanya Unit Pemasaran Bersama Wirausaha Koperasi Sube Huter ini , diharapkan akan menambah semangat petani dan pelaku rantai pasar kakao dan komoditi lain untuk lebih dapat meningkatkan kinerja dari apa yang telah kita kerjakan selama ini khusunya komoditi kakao. Diharapkan juga dengan adanya unit Pemasaran Bersama Wirausaha Koperasi Sube Huter ini juga akan berdampak langsung dalam peningkatan pendapatan petani kakao khususnya dan pelaku ranatai nilai kakao pada umumnya.
Direncanakan pengiriman pertama akan dilakukan pada bulan Agustus ini dengan volume awal berkisar 12 ton ke BT Coco di Surabaya menggunakan container.
Yang menjadi tantangan bagi UPB baik sube Huter maupun UPB di tingkat kelompok desa seperti UPH Plea Pulidan UPH Impala Tilang adalah modal kerja.
Peresmian dihadiri para undangan yang terdirii dari pihak swasta Ibu Eet Etih Suryatin sebagai Manager PT Jabat Rasa Flores, Bambang Witjaksana sebagai Project Manager SPSCF Yayasan Sahabat Cipta dan staff, Pak Dedi Saragih Pimpinan WVI ADP Sikka, Beberapa Camat dan Kepala Desa, Pimpinan Koperasi Kredit , Perwakilan Kelompok Tani, Ketua Cococa Learning Center. Dari pihak pemerintah dari undangan yang dikirimkan terlihat hanya dari Dinas Koperasi dan UKM dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan, selain itu tidak ada yang hadir.
Sebagai awal pembukaan bersyukur pak Romanus sebagai sesepuh dan Ketua Puskopdit Swadaya Utama berkenan memberi arahan. Beliau memberi penghargaan pada Sube Huter yang berani membuat trobosan baru. Selain itu yang perlu ditekankan harus adanya pemisahan management antara Kopdit Sube Huter dengan Wirausaha Koperasi Sube Huter, namun masih satu payung kelembagaan.
IMG_1700

IMG_1711
Peresmian secara simbolis dengan membuka penutup papan nama Unit Pemasaran Bersama Wirausaha Koperasi Sube Huter dilakukan oleh Bapak Simeon, Staff Ahli Bupati, mewakili bapak Wakil Bupati yang sebelumnya dijadwalkan akan hadir. Semoga kegiatan ini mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah, khususnya pak Bupati Anshar Rera. Karena kegiatan ini sangat mendukung program beliau khusunya pengembangan kakao.
IMG_1722

Selain peresmian untuk menarik minat petani, juga digelar pameran yang diselenggarakan oleh Pusat Pembelajaran Kakao Sikka. Pada kesempatan tersebut banyak petani yang bertanya seputar budidaya kakao.
IMG_1743
IMG_1776
IMG_1753
Jadi untuk masalah kakao seharusnya diKabupaten Sikka harus lebih berkembang, karena sudah ada tenaga ahli dari sumber daya lokal yang tergabung di Pusat Pembelajaran Kakao Sikka, juga ada Unit Pemasaran Bersama Wirausaha Koperasi Sube Huter yang siap memasarkan komoditi yang ada di Kabupaten keluar.
IMG_1802

Sumber : https://kakaosikka.wordpress.com/2015/07/31/sikka-siap-mengirimkan-hasil-perkebunannya-ke-manca-negara/

Menyulap Sawah Jadi Kebun Kakao

Anselmus Wayong Langkamau

Menyulap Sawah Jadi Kebun Kakao

POSTED BY EC. PUDJI ACHIRUSANTO, JUNE 9, 2015

Kakao asal Indonesia menjadi salah satu primadona industri coklat di dunia. Sehingga banyak daerah di Nusantara berlomba mengembangkan komoditas ekspor ini. Namun menyulap areal sawah menjadi kebun kakao merupakan hal baru dan jarang ditemukan di beberapa daerah sentra kakao. Bagaimana Anselmus Wayong Langkamau melakukannya? MENJADI seorang petani sudah menjadi cita-cita Anselmus Wayong Langkamau. Semenjak tamat Sekolah Teknik (ST) di Larantuka tahun 1971, Selmus -sapaan akrabnya- hendak melanjutkan pendidikan pertukangan di Ambag School milik Misi ( Katolik ) di Larantuka. Perkakas pertukangan yang mahal dan lama pendidikan yang empat tahun, membuat Selmus mengurungkan niat menjadi tukang. Selmus akhirnya memantapkan niat untuk kembali ke tanah kelahirannya di Konga dan bergelut dengan lumpur sawah. “Saat itu banyak teman yang mengajak merantau, tapi saya berpikir lebih baik saya membangun desa saja daripada membangun kampung halaman orang. Apalagi saya masih muda. Akhirnya saya terjun jadi petani, “ujar Selmus mengawali obrolan di pondok sederhananya di tengah kebun kakao.

Continue reading

Tiga Kabupaten di Pulau Flores Bergabung dengan Proyek Kemakmuran Hijau

2015-04-27-Tiga Kabupaten di Pulau Flores Bergabung dengan Proyek Kemakmuran Hijau

Kupang – Tiga kabupaten di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), bergabung dengan Proyek Kemakmuran Hijau Millennium Challenge Account – Indonesia (MCA-Indonesia). Ketiga kabupaten tersebut adalah Ende, Sikka dan Flores Timur. Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding, MoU) tentang Persiapan dan Pelaksanaan Program Compact, Proyek Kemakmuran Hijau telah ditandatangani oleh tiga kabupaten itu bersama Provinsi NTT di Kota Kupang pada 25 Maret 2015.

Penandatanganan nota kesepahaman ini dilakukan bersamaan dengan Pra-Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan (Pra-Musrenbang) Provinsi NTT yang dihadiri sekitar 450 orang, antara lain perwakilan Deputi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemerintahan Provinsi NTT, Pemerintah Kabupaten/Kota se-NTT, serta pimpinan lembaga mitra pembangunan di NTT, termasuk MCA-Indonesia.

Penandatanganan tersebut merupakan prasyarat pada pelaksanaan Jendela Hibah 1 A, yaitu Kemitraan Kakao Lestari, Proyek Kemakmuran Hijau. Ketiga kabupaten itu menjadi bagian dari lokasi pelaksanaan kegiatan Hibah Kemitraan Kakao Lestari.

“Dalam rangka percepatan pembangunan Provinsi NTT, perlu ada kerja sama dengan berbagai pihak. Saya memberikan apresiasi atas dukungan MCA-Indonesia dalam pengembangan cokelat di Kabupaten Ende, Kabupaten Sikka, dan Kabupaten Flores Timur, yang nota kesepahamannya ditandatangani hari ini,” ujar Gubernur NTT, Frans Lebu Raya saat memberikan sambutan di Aula Utama Eltari, kompleks perkantoran Provinsi NTT.

Di kesempatan yang sama, Bupati Flores Timur Yoseph Lagadoni Herin menyambut gembira dukungan MCA-Indonesia untuk pengembangan kakao di kabupaten tersebut. Ia menyampaikan, kakao merupakan salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Flores Timur yang menghidupi ribuan keluarga. Pada 2014, Flores Timur menghasilkan total produksi kakao 2.354 ton, dengan produktivitas 814 kilogram per hektar.

Ucapan terima kasih disampaikan pula oleh Bupati Sikka, Yoseph Andsar Rera, kepada MCA-Indonesia. Ia mengatakan selain tanaman kopra dan kemiri, tanaman kakao adalah komoditas primadona di Kabupaten Sikka. Sepanjang 2013, Sikka mendapatkan total produksi kakao sebesar 7.118 ton, dan produktivitas 595 kilogram per hektar.

Adapun Wakil Bupati Ende, Djafar Achmad, berujar, “Dukungan MCA-Indonesia akan memperkuat pengembangan kakao rakyat, yang dalam lima tahun terakhir ini sedang menggeliat.” Dia berharap dukungan tersebut mampu memperkuat pengembangan kakao dari hulu hingga ke hilir, termasuk meningkatkan produktivitas, mutu produk, dan harga jual yang menguntungkan petani kakao.

Sebelumnya, dalam rangka persiapan dan pelaksanaan Proyek Kemakmuran Hijau, MCA-Indonesia telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan Pemerintah Provinsi NTT serta Pemerintah Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Sumba Tengah, Kabupaten Sumba Barat dan Kabupaten Sumba Barat Daya pada April 2014. (Fransiskus Harum, Novel Gofur, Bunga Manggiasih/MCA-Indonesia)

Sumber : http://mca-indonesia.go.id/kabar-kami/tiga-kabupaten-di-pulau-flores-bergabung-dengan-proyek-kemakmuran-hijau/

SERANGAN OPT KAKAO DI FLORES TIMUR

SERANGAN OPT KAKAO DI FLORES TIMUR

Kamis, 30 Mei 2013 – 12:10:34 WIB

2013-05-30-SERANGAN OPT KAKAO DI FLORES TIMUR

Kakao (Theobroma cacao, L) dikenal dan di budidayakan oleh masyarakat di Kabupaten Flores Timur sejak tahun 1979/1980 yang dikembangkan melalui swadaya maupun lewat bantuan pemerintah.

Areal pertanaman kakao sampai dengan tahun 2010 seluas 6.774,67 Ha dengan luas areal tanaman menghasilkan sebanyak 5.106,63 Ha. Pengembangan yang terbanyak dilakukan melalui bantuan pemerintah sejak tahun 1989 sampai dengan tahun 2000. Selain itu semangat para petani melakukan pengembangan secara swadaya terus meningkat dari tahun ke tahun, karena harga komoditi kakao cukup stabil jika dibandingkan dengan komoditi perkebunan lainnya. Hal ini mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah melalui penerapan visi dan misi Kabupaten Flores Timur.
Tanaman kakao di Kabupaten Flores Timur memiliki prospek yang menguntungkan dan perlu terus dikembangkan oleh masyarakat. Kondisi tanaman kakao dalam 5 (lima) tahun terakhir banyak diserang oleh Organisme Pengganggu Tumbuhan utama seperti Penggerek Buah kakao, Kepik Penghisap, Penyakit Busuk Buah dan sejenis OPT yang diduga hama Penggerek Batang/Cabang Kakao yang dilaporkan oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Flores Timur telah menyerang tanaman kakao seluas 990 Ha (tabel 1).

Sumber : http://ditjenbun.pertanian.go.id/bbpptpsurabaya/berita-273-serangan-opt-kakao-di-flores-timur.html

Hama Helopeltis Serang Kakao dan Jambu Mete di Flores Timur

Rabu, 10 Agustus 2011 | 9:49

2011-08-10-Hama Helopeltis Serang Kakao dan Jambu Mete di Flores Timur
Pohon dan buah kakao. [Dok.SP]

[KUPANG] Sekitar 6.129 hectar tanaman kakao dan  28.619 hektar tanaman jambu mete di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), terserang hama Helopeltis yang tidak dapat dikendalikan petugas teknis setempat karena kekurangan dana dan peralatan.

Hama tersebut diduga terjadi saat pergantian cuaca dari musim hujan je musim kemarau. Dua jenis komoditi bernilai ekonomis ini yang menjadi andalan masyarakat Flores Timur.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas  Perkebunan dan Kehutanan Flores Timur Antonius Tonce Matutina, ketika dihubungi per telepon di Larantuka, Rabu (10/8) pagi mengatakan, serangan hama tersebut sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Apalagi, masyarakat Flores Timur rata-rata menggantungkan hidupnya pada kedua komoditi perkebunan tersebut. Untukitu, diharapkan adanya dukungan dana dari pemerintah provinsi NTT untuk pengadaan obat pembasmi hama dan peralatannya.

Continue reading

Dinas Koperasi Bangun Kerjasama Kemitraan Pemasaran Kakao Antara Koperasi dengan Mitra Kerja

03 Juni 2011

Dinas Koperasi Bangun Kerjasama Kemitraan Pemasaran Kakao Antara Koperasi dengan Mitra Kerja

Oleh Hieronimus Bokilia

Ende, Flores Pos

Dinas Koperasi dalam upayanya membantu pengembangan koperasi terutama dalam membantu pemasaran komoditi kakao di Kabupaten Ende, membangun pola kerjasama kemitraan koperasi. Dinas Koperasi dalam upayanya itu maka menggelar semiloka dengan tujuan menyamakan persepsi dan membangun komitmen bersama bagi koperasi, perusahaan swasta dan lembaga perbankan untuk menjalin kerjasama kemitraan dalam bisnis pemasaran komoditi kakao. Juga untuk merumuskan naskah perjanjian kerjasama kemitraan usaha dalam bisnis pemasaran komoditi kakao.

Semiloka yang dilangsungkan di aula Kantor Dinas Koperasi dan UMKM, Sabtu (28/5) dibuka Asisten II Setda Ende, Don Randa Ma mewakili bupati Ende. Dalam sambutannya, Randa Ma menegaskan, pemerintah memandang penting kegiatan ini karena koperasi memiliki peran yang strategis membantu para petani dalam melakukan bisnis pemasaran komoditi kakao kepada pihak investor. Koperasi yang merupakan usaha bersama dan basis pemberayaan ekonomi rakyat sudah berurat akar di negeri ini karena kekuatan utama koperasi ada di pundak masyaakat yang menjadi anggotanya sebagai pelaku usaha ekonomi.

Koperasi, lanjut Randa Ma merupakan pilihan terbaik dijadikan wadah berhimpun para petani kakao di pedesaan dalam membangun relasi bisnis pemasaran komoditi kakao dengan investor yang berminat untuk bermitra. Dinas Koperasi sebagai leading sector harus proaktif dalam melakukan koordinasi dan kolaborasi dngan SKPD terkait, camat dan kepala desa/lurah dalam memfasilitasi seluruh Gapoktan, kelompok desa sasaran anggur merah, kelompok usaha PNPM serta kelompok usaha ekonomi produktif agar membentuk wadah kopersi.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM, Anna Anni Labina dalam materinya pola kebijakan kerjasama kemitraan usaha koperasi dalam pemasaran komoditi kakao di Kabupaten Ende mengatakan, realita dewasa ini kakao merupakan komoditi unggulan dan sekaligus menjadi icon bagi Kabupaten Ende, karena mayoritas petani di daerah ini sudah menanam dan memproduksi kakao. Koperasi yang berkiprah di Kabupaten Ende memiliki peluang usaha yang cukup cerah untuk mengembangkan bisnis pemasaran komoditi kakao.

Bisnis pemasaran komoditi kakao yang dilakukan oleh koperasi, kata Anni Labina,belum mampu berkembang secara maksimal, karena masih dilaksanakan dalam skala kecil. Kondisi ini dipicu oleh berbagai permasalahan internal dan eksternal yang dihadapi oleh Koperasi.Dalam menyikapi momentum peluang bisnis pemasaran komoditi kakao pada tahun 2011 ini pemerintah daerah melalui Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Ende telah merancang langkah-langkah implementasi pola kerjasama kemitraan bisnis pemasaran komoditi antara koperasi dengan pengusaha swasta dan BUMN/lembaga perbankan.

Pemerintah daerah sebagai fasilitator pembangunan memandang penting dan mempunyai kepedulian untuk membangun komitmen kerjasama kemitraan bisnis Pemasaran Komoditi Kakao tersebut, sehingga dapat lebih memperkuat posisi tawar Koperasi sebagai wadah berhimpun para petani Kakao dalam mengembangkan jaringan kerjasama dengan para mitranya.

Dalam bisnis pemasaran komoditi kakao, masih ada sejumlah permasalahan yang dihadapi koperasi diantaranya belum adanya kesamaan persepsi dan komitmen dari berbagai pihak yang bergelut dalam bisnis pemasaran komoditi kakao. Belum terdapat jaringan kerjasama kemitraan usaha antara koperasi dengan para mitra bisnisnya dalam pemasaran komoditi kakao. Selain itu, rendahnya daya saing koperasi terhadap para pelaku usahayang lebih kuat dan sudah berpengalaman dalam bisnis pemasaran kakao.

Permasalahan lainnya yaitu keterbatasan kemampuan koperasi dalam mengakses informasi yang akurat tentang perkembangan harga kakao di pasaran, keterbatasan permodalan koperasi untuk mengembangkan bisnis pemasaran kakao. Sarana dan prasarana pemasaran kakao kurang memadai, pengelola koperasi dan masyarakat petani kurang memahami standart mutu kakao yang berlaku di pasaran. Ditambah lagi masih lemahnya pengendalian dan pengawasan terhadap standart mutu kakao (Quality Control). Belum terdapat regulasi di daerah yang melandasi dan mengikat kerjasama kemitraan dalam bisnis pemasaran kakao serta belum optimalnya koordinasi, sinkronisasi dan kolaborasi kerjasama lintas sektor untuk membangun jaringan kemitraan dalam bisnis pemasaran kakao.

Kemitraan yang mau dibangun antara koperasi dengan mitra kerja bertujuan untuk mewujudkan kemitraan antara Koperasi sebagai badan usaha berskala mikro dan kecil dengan badan usaha berskala menengah dan besar. Selain itu mendorong terjadinya hubungan yang saling menguntungkan dalam pelaksanaan transaksi usaha antara koperasi sebagai badan usaha berskala mikro dan kecil dengan badan usaha berskala menengah dan besar.

Mendorong terbentuknya Akses dan Struktur Pasar yang menjamin tumbuhnya persaingan usaha yang sehat dan melindungi konsumen. Mencegah terjadinya penguasaan pasar atau monopoli dan pemusatan usaha oleh orang perorangan atau kelompok tertentu yang berdampak merugikan koperasi dan pelaku UMKM lainnya. Mengembangkan jaringan kerjasama kemitraan untuk meningkatkan posisi tawar (bergaining position) koperasi sebagai badan usaha berskala mikro dan kecil dengan badan usaha berskala menengah dan besar.

Pola kebijakan yang dianut dalam kemitraan adalah kebijakan penumbuhan iklim usaha di mana pemerintah daerah berupaya senantiasa menciptakan dan menumbuhkan Iklim Usaha dengan menempuh Langkah-langkah Kebijakan meliputi aspek dukungan kelembagaan/manajemen usaha, aspek pengembangan sarana dan prasarana, aspek informasi pengembangan usaha, aspek kemitraan, aspek legalitas perijinan usaha, aspek kesempatan/peluang berusaha, aspek pendanaan dan aspek promosi dagang. Pihak dunia usaha dan masyarakat berperan serta secara aktif untuk mendukung kebijakan pemerintah daerah dalam menciptakan dan menumbuhkan iklim usaha, sehingga dapat berjalan dengan kondusif.

Strategi pengembangan usaha koperasi, pemerintah daerah memfasilitasi pengembangan usaha/bisnis koperasi melalui beberapa strategi, antara lain pengembangan sumber daya manusia (SDM), pengembangan riset, desain dan teknologi, pengembangan produksi dan pengolahan, pengembangan pemasaran dan pengembangan layanan jasa pendampingan (Bussiness Development Service Provider/BDSP).

Pola kemitraan pemasaran, kerjasama kemitraan dalam bisnis pemasaran komoditi kakao antara koperasi dengan para mitra bisnisnya dapat dilaksanakan dengan beberapa pola, antara lain pola inti – plasma, pola sub kontrak, pola waralaba, pola perdagangan umum, pola distribusi dan keagenan, pola bagi hasil, pola kerjasama operasional, pola usaha patungan (joint venture) dan pola penyumberluaran (out sourcing).

Diposkan oleh hierobokilia di 14.34

Sumber : http://hierobokilia.blogspot.co.id/2011/06/dinas-koperasi-bangun-kerjasama.html